Positive Friendship

Actually tema kali ini positive relationship, nah berhubung saya nih masih belum bertemu belahan jiwa *ehem jadi saya mau cerita tentang positive friendship.

Akhir-akhir ini saya ngerasa banyak banget orang yang tjurhat ke social media. Entah di instagram, wa stories, instastories, atau status facebook. Dan muncullah comment-comment dari netijen yang budiman. Dari mulai yang mensupport sampai yang mencaci. Dari yang bener-bener peduli sampai yang sok peduli.

Sometimes, saya ngerasa kasian sama mereka. Karena pada akhirnya banyak orang yang tau masalah mereka. Orang-orang yang mungkin hanya sekedar tau mereka jadi tau masalah yang seharusnya jadi konsumsi pribadi, dalam hal ini keluarga atau teman dekat.

Orang-orang tersebut jadi bisa dengan mudah menjugde. Kalo ditanya tau masalahnya si A darimana? Noh dia tadi posting begindang. Semudah itu. Dan semudah itu pula kita kita ini ngomongin masalah orang yang mungkin hanya sekedar tau itu tadi.

Banyak banget spekulasi yang muncul di benak saya. Mungkin mereka butuh perhatian makanya tjurhat di socmed biar semua tau yang dia rasakan. Atau mungkin mereka nggak punya teman tjurhat yang nyaman sehingga lari ke socmed.

Sedikit atau banyaknya teman nggak jadi pengaruh tentang nyaman atau tidaknya seseorang untuk cerita. Kadang ada lo yang temannya buanyak tapi masih bingung kalo mau tjurhat sama sapa.

Saya sendiri memang nggak begitu bisa tjurhat ke sembarang orang. Ya walaupun dari luar kelihatan deket banget tapi nggak berarti saya bisa gampang cerita masalah pribadi saya. Thats why temen-temen banyak yang bilang saya introvert.

Dari situlah kenyamanan dibutuhkan. Dan alhamdulillah saya punya temen-temen yang nyaman buat cerita. Walaupun nggak banyak sich. But Im lucky to have them. Sehingga saya nggak perlu sibuk-sibuk nulis status di Facebook agar dunia tau tentang apa yang saya alami.

Sahabat adalah mereka, ketika lembut tutur katanya menenangkan. Kerasnya tutur katanya adalah perbaikan.

Sahabat bukan ia yang marah ketika kau beritau apa yang salah pada dirinya. Bukan pula yang DIAM ketika tau dirimu salah. Karena ia tau. Allaah menciptakan surga itu ukurannya luas.

Sahabat, adalah yang menerima perubahanmu kearah kebaikan. Mendukungmu walau belum mengikuti jejakmu.

Mendukung walau tau masa lalumu tak indah semuanya.

Sahabat, ketika kau banyak memberiku nasihat perbaikan. Aku yakin itu semua izin Allah. Do'akan aku, agar aku bisa segera mengikuti langkahmu memperbaiki diri.

Aku tau kau yang senantiasa mengingatkanku pun tak lepas dari salah. Aku pun sedang dalam proses. Namun, yang aku tau. Proses yang dijalankan bersama itu indah, takkah kau ingin merangkulku?

Ku mohon, jangan letih mengingatkanku, meski aku kadang seperti tak peduli, tapi sebenarnya, aku sedang beradu dengan nafsu duniawi.
Genggam tanganku, ku pinta jangan lepaskan.
Kau tau? Masa dunia ini tak cukup untuk aku bersahabat denganmu, maka pintakan pada pemilik Surga agar mengizinkan aku ke surgaNya bersamamu :)

_KIA's words_

Go Around The World bareng The Journeys


Baca buku  The Journeys ini kaki jadi gatel pingin backpackeran, bener-bener racun deh buku ini haha. Buku ini berisi tentang pengalaman travelling beberapa penulis. Beberapa uda familier diantaranya Raditya Dika blogger dan komika gokil, saya juga sudah baca beberapa bukunya yang bikin ngakak gulung-gulung.

Terus Aditya Mulya yang nulis Sabtu Bersama Bapak (udah baca juga bukunya) dan Trinity yang nulis The Naked Traveler (kalo yang ini hanya sekedar tau tapi belom baca). Yang lainnya bener-bener belum tau.

Karena perbab beda-beda ceritanya jadi bisa loncat-loncat bacanya. Pertama saya baca pengalaman Alexander Thian waktu ke Karimun jawa (page : 119). Selain karena tempatnya masih di Jawa juga karena saya pernah kesana.

Jadi penasaran aja, yang dia rasain sama nggak sama saya. Dan emang pengalamannya hampir sama, bedanya dia dulu backpackeran sedangkan saya ikut travel agent. Yang ngebahas tentang traveling di Indonesia cuma dua Alexander Thian di Karimun jawa dan Okke "Sepatumerah" (page : 107) di Soe NTT, lainnya di luar negri semua.

Karena yang cerita banyak jadi beda-beda cara nulisnya. Asik sich bacanya, ada yang ngebahas place nya, ada yang lebih banyak bahas kulinernya, ada juga yang lebih banyak bahas something strange disana. Seru, isinya nggak hanya beda-beda tempatnya tapi juga dari sudut pandang yang beda-beda.

Ada beberapa cerita yang jadi favorit saya. Punyanya Aditya Mulya (page : 193) yang nyeritain pengalamannya waktu ngurus passport yang akan expired ke Senegal Afrika Barat. Karena jarang banget lo ada cerita travelling ke Benua Hitam ini.

Dan baru nggeh kalo ternyata ngurus visa ke Afrika itu ribet cuy kudu ke Jepang dulu. Dan nggak semua negara di Afrika sono aman buat dikunjungi, karena ada beberapa negara yang rawan konflik diantaranya Liberia, Congo, Guenia dan Mali.

Kemudian ceritanya Valiant Budi (page : 91) di Arab Saudi. Selain karena ceritanya yang gokil abis juga karena pengalamannya bertemu someone stranger. Jadi waktu dia ke Madinah dia bertemu bapak-bapak yang nawarin roti panas. Si bapak tiba-tiba tanya,

B (Bapak) ; V (Valiant)

B  : Ngomong-ngomong, apa yang membawamu bisa terbang jauh ke negeri ini, anak muda?

V  : Yah mempertebal... Iman?

B  : Apa sih arti keyakinan bagimu?

V  : Keyakinan bagi saya.. Seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya; mencium 
aromanya, tapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang yang belum pernah,belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut.

B : Apakah kamu sudah mendapatkan wewangian tersebut?

Si Valiant nggak bisa ngejawab. Sampai si bapak bilang " Kau akan kembali kemari, Anak Muda, untuk waktu yang jauh lebih lama dari yang pernah kau bayangkan. Itupun bila kau beruntung. Ataupun mungkin juga sial. Tergantung selama apa wewangianmu tidak menguap." Dan si bapak pergi dan meninggalkan roti panasnya untuk Valiant. 

Emank sich banyak juga orang-orang yang pernah kesana punya pengalaman-pengalaman aneh. Ada yang tiba-tiba aja tersesat waktu mau keluar Masjidil Haram padahal pintunya ada didepan mata tapi ndak kelihatan.

Ada yang tiba-tiba aja uda berada di samping kabah padahal sepertinya susah mencapainya dengan tubuh yang mungil diantara para jamaah yang bertubuh tinggi dan kekar. Katanya semua hal bisa terjadi disana.

At all pengalaman penulis lainnya nggak kalah kerennya. Kalo kata bang Fiersa Besari "Petualangan bukan hanya tentang menemukan destinasi wisata, tapi juga tentang menemukan siapa diri kita yang sebenarnya."

Kapan lel go abroad?? Itu passpor dianggurin doank?? 

Tentang Pernikahan

Pic from google
Saya yang belum nikah ini di suruh nulis tentang pernikahan?? Aih kelewatan deh, kan jadi nya pingin cepet dihalalin haha *becanda woi jangan dianggep serius. Karena sayanya ini belum merasakan bagaimana mengarungi bahtera rumah tangga yang katanya merupakan ladang pahala, kalo udah halal mah gandengan tangan aja udah dapat pahala itu belum yang lain-lain lo *ups.

Jadi tulisan yang saya buat ini otomatis bukan dari pengalaman pribadi. Lebih banyak sok taunya mungkin hehe. But, monggo di baca harapan saya semoga bermanfaat aja. Yang baik silahkan di ambil yang jelek buang aja ke tempat sampah kayak mantan *eh.

Saya mau mulai dari kisah plato

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? ”

Gurunya menjawab, "ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”.

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting–ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya.

Gurunya kemudian menjawab ”jadi ya itulah cinta”.

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “apa itu pernikahan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab, “ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu pernikahan”.

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”.

Gurunyapun kemudian menjawab, “dan ya itulah pernikahan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita tertarik, Itu bukan pilihan itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan. Itupun adalah kesempatan.

Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari Bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik,pandai, dan kaya daripada pasangan kita dan tetap kita memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Menikah itu pilihan, bahkan memutuskan untuk tidak menikahpun pilihan. Hidup itu terdiri dari pilihan-pilihan. Tergantung kita tujuannya mau kemana. Kalo kata pak ustad menikahlah untuk beribadah kepada Allah maka kamu akan dituntun dalam kebaikan.

Seorang teman pernah cerita, dia tidak ingin mempunyai anak. Katanya kalo punya anak merepotkan. Temannya yang punya anak tidak bisa keliling dunia seperti dia. Biaya hidup pun lebih mahal. Sayapun bertanya "terus kalo kamu tua nanti gimana? Siapa yang akan mengurusmu?".

"Ya semoga saja sodara-sodaraku mau mengurusku atau setidaknya aku bisa ke panti jompo. Kau tau orang Amerika itu selfish. Banyak anak yang lebih mementingkan dirinya sendiri dan melupakan orang tuanya. Sangat berbeda dengan disini".

Dan saya menjadi merasa sangat beruntung berada di sini, dan menjadi seorang muslim. Why? Karena di agama saya, diajarkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Well, lanjut kepemahaman saya soal menikah yang yah pasti lebih banyak taunya lewat buku, kajian atau curhat colongan teman. Kalo melihat kehidupan rumah tangga orang tua saya sendiri saya memang nggak begitu ngerti. Mama sudah menjadi seorang single fighter sejak saya masih berusia empat tahun. Anak usia empat tahun ngerti apa sih soal pernikahan.

Yang namanya hidup ya nggak mungkin bebas dari yang namanya problematika. Tak terkecuali dengan menikah. Walau yang sering di denger yang indah-indah. Lihat aja cerita dongeng-dongeng itu pasti akhirnya happily ever after.

Padahal ya kalo kata pak ustad menikah itu memulai perjalanan dari awal dari titik nol. Okeh bayangin aja kalian bakal hidup serumah dengan orang asing. Walaupun kalian sudah pacaran bertahun-tahun tapi tetep kan nggak bisa tau sifat-sifat jeleknya kalo belum tinggal serumah. Dua orang dari keluarga yang berbeda dengan pola didik yang berbeda pasti banyak juga beda pemikirannya.

Menikah itu untuk mendidik. Mendidik diri sendiri setidaknya, untuk menjadi lebih nriman kekurangan pasangannya. Nggak ada manusia yang sempurna kan? Kalo kata ustad salim a fillah "ta’aruf adalah proses seumur hidup. Rumus terpenting: jangan berekspektasi berlebihan dan jangan merasa sudah sangat mengenal seingga berhak menafsirkan perilaku pasangan".

Bisa dibaca si postingan saya Surat dari Sahabat

Well, meskipun banyak denger manis pahitnya pernikahan. Saya tetep pingin menikah dengan segala problematika yang pasti bakal saya temui nantinya. Menikah nggak hanya soal happy happy aja tapi juga nggak melulu soal sedih sedih terus. Tergantung bagaimana kalian menyikapinya.

The Chocolate Kiss

Judul : The Chocolate Kiss
Penulis : Laura Florand
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : VI + 458 hlm, 20.5 cm
Tahun terbit : 2013

La Masion des Sorcieres, kedai teh dengan banyak hiasan-hiasan coklat penyihir didalamnya. Disanalah tempat Megalie Choudron membuat minuman coklat panasnya. Dia selalu membubuhkan harapan dalam cangkir para pelanggannya, agar mereka menjadi berani, kuat dan percaya diri. Tapi tidak dalam cangkirnya sendiri. Kehidupan menjadikannya tidak percaya kepada siapapun selain dirinya sendiri. Dia membuat tembok dalam dirinya yang tak bisa di masuki orang lain.

Sampai saat Philippe Lyonnais datang ke kehidupannya, tanpa permisi. Seorang pastry chef di Paris dengan karya andalannya maccaron cake itu membuka toko di dekat kedainya dan mengambil semua pelanggannya.

Konflik demi konflik terjadi antara mereka berdua. Phillipe berusaha mendobrak pertahanan diri megalie. Dan megalie terus membohongi dirinya sendiri agar tidak meleleh dihadapan phillipe.

Karena setting tempatnya di Paris atau lebih tepatnya di pulau kecil bernama Ile Saint-Louis dekat Paris. Jadi buat ngebayangin tempatnya agak susah. Apalagi pulau itu merupakan bekas kastil, dimana bangunannya banyak terdapat patung dan menara-menara. Untuk sampai sana harus menyebrangi jembatan batu Notredam. Berasa masuk ke dunia kerajaan.

Baca novel ini bikin gregret, karena mereka ini sebenernya sama-sama suka tapi nggak mau ngungkapinnya. Malah kadang saling emosi saat bertemu. Si Philippe nya arogan, Megalie nya keras kepala. Gemesh deh sama mereka berdua ini. 

Cerita Anak Rantau

Ini merupakan kumpulan cerita anak rantau untuk tinggal jauh dari rumah. anak itu adalah aku. Pertama kali pergi jauh dari rumah atau kalo emang bisa dibilang ngerantau karena cuma dua bulan itu waktu PKL ke Bali. Persiapannya nggak begitu banyak sich karena di sana numpang di rumah kakaknya teman.


Untuk kendaraan selama disana saya maketin motor saya dari Malang. Yang saya takutkan waktu itu, apakah saya bisa cocok sama partner saya selama disana. Karena kami memang nggak begitu dekat. Saya memilih bergabung denganya karena mau keluar dari zona nyaman saya. Dengan keluar dari lingkup genk kuliah saya waktu itu.


Yang bikin lucu itu, waktu berangkat mama saya membekali saya dengan satu kardus indomie berbagai macam rasa. Katanya ini biar gak bingung kalo mau sarapan atau pas di sana lapar tapi males keluar rumah. Yaelah ma, masak anaknya yang tsantik ini disuruh makan micin tiap hari haha.


Mungkin mama saya ini pingin give something tapi bingung mau ngasih apa soalnya saya waktu itu alhamdulillah udah bisa membiayai diri sendiri.


Di Bali semua berjalan lancar, lama kelamaan saya mulai klop sama partner saya ini. Untuk makan disana kami masak sendiri karena agak  susah cari makanan halal, Bali gitu lo. Kami menghindari warung yang menjual makanan berbahan daging.


Lebih kerasa seperti holiday sich disana. Secara ya mau kepantai aja tinggal ngeeeng 15 menit sampe. Pulang kantor biasanya ke Pantai dulu, bis sunset pulang. Seru banget. Kulit sampe gosong, pulang-pulang udah kayak orang negro aja haha.


Kedua, waktu saya belajar bahas inggris di Pare, Kediri. Setelah lulus kuliah saya langsung daftar kursus di Kampung Inggris,Pare. Karena biaya privat disana sangat murah, cuma seratus lima puluh ribu gaes sebulan. Dan terpercaya juga, cek aja review-reviewnya.


Awal-awal disana, seminggu sekali pasti pulang. Lama-lama capek di ongkos dan di badan. Akhirnya pulang kalo ada acara aja di Malang. Selebihnya kalo minggu maen sama temen-temen. Transpotasi di sana menggunakan sepeda pancal. Seru sepedaan bareng-bareng keliling desa.


Ketiga, merupakan perantauan paling lama yaitu waktu kerja di Ibu Kota. Awalnya mau numpang dulu di rumah tante didaerah matraman tapi alhamdulillah ternyata kosan udah di cariin sama perusahaan jadi nggak bingung nyari kosan lagi. Dan letaknya pun berada di belakang kantor, jadi kalo berangkat dan pulang cukup dengan jalan kaki saja hemat di transport hehe.


Awal-awal dulu boros banget, maklum pertama kali dapat transferan tiap bulan. Suka jajan, belanja, macam uang nggak bakal habis aja. Sampai pernah waktu itu akhir bulan duit udah habis nggak ada sisa sepeserpun. Padahal gaji baru masuk nanti malam.


Buat beli sarapan dan makan siangpun nggak tau harus pake apa. Mau ngutang ke temen malu, mau puasa pas bukan hari senin atau kamis. Untungnya nemu sarimi duo di kamar. Jadi separo buat sarapan dan separonya buat bekal makan siang, di tambah nasi hasil minta ke ibuk kos hehe.


Pas di kantor makan bareng-bareng sama temen yang sama bawa bekalnya. Mungkin dia ngintip kali ya bekalku cuma mie sama nasi eh dia bilang "aduh li aku tadi beli lauk kebanyakan nih ayamnya separo buat kamu ya". Moment itu masih ke inget sampe sekarang.


Terus pernah dulu stres nyari kosan baru, karena kantor pindah ke Tomang. Pulang kerja muter-muter di daerah sana buat cari kosan sampai malam. Nggak dapat-dapat yang cocok entah itu dari segi harga atau segi tempat.


Pernah uda dapat kosan yang letaknya tepat depan kantor, kamarnya bersih dan luas, harganyapun terbilang murah. Ternyata pernah ada yang meninggal di sana. Ngeri deh, langsung cabut pulang.


Keempat, waktu saya di mutasi kan ke Magetan. Disana kotanya sepi banget. Pukul delapan malam toko-toko udah pada tutup. Tapi waktu saya di sana pas banget ada acara Pasar Malam tahunan. Berasa nostalgia gitu, secara di Malang udah nggak ada yang kayak gini.


Mencoba permainan lawas. Mulai dari naik dremulen, main lempar gelang, main mancing botol sampai mencicipi kembang gula warna merah muda. Cukup dua bulan disana akhirnya saya resign dan kembali ke Malang.


Perantauan mengajari saya banyak hal. Bagaimana cara beradaptasi dengan baik, bagaimana bisa menjadi pribadi yang mandiri dan tentunya bagaimana cara mengatur keuangan. Menurut saya merantau itu seru sich walau awal-awal pasti ada rasa takut yang menyelimuti.


Ya namanya juga keluar dari zona nyaman, pasti awalnya juga terasa nggak nyaman. Tapi seiring berjalannya waktu zona tak nyama itu akan jadi zona nyamanmu.


"Merantaulah, maka kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang"
(Imam Syafii)

Flavor of Happiness : Jodoh untuk Koko

jodoh untuk koko

Koko adalah kakak pertama saya. Badannya tinggi, kulit putih dan mata sipit membuatnya sepintas seperti keturunan chinesse. Thats why saya panggil koko (panggilan kakak dalam bahasa china).


Apa hubungannya koko dengan kebahagiaan saya? Banyak banget sebenernya, bahagianya dia bahagianya saya. Sedihnya dia, sedihnya saya juga. Apalagi kalo dia cerita tentang jodohnya yang tak kunjung datang. Bikin saya jadi ikut galau juga.

Pernah teman saya bilang jodohnya koko kamu pikirin jodohmu kok ga kamu pikirin. Nggak ngerti sih, soalnya kalo tentang jodoh saya, saya udah pasrah sama Allah.


Toh wanita itu dikejar bukan mengejar, nanti juga inshaAllah ketemu kok. Jadi saya nggak begitu mikir. Lha kalo koko, dia yang harus mengejar. Sedangkan saya tau kelemahannya. Paling susah deh kalo disuruh PDKT sama cewek.


Dari tahun 2013 si Koko ini udah minta di cariin. Beberapa kali kenalan tapi nggak ada yang cocok. Entah itu ceweknya yang nggak cocok atau koko sendiri yang gak cocok. Saat 2016-2017 kemarin saya saranin buat taaruf aja, toh koko niatnya juga mau langsung nikah. Mulai deh saya minta bantuan temen-temen buat ikut cariin juga, termasuk Lintang dan Jihan.


Saya bener-bener berusaha keras di dua tahun itu. Tanya temen sana sini sampai ke temennya temen yang bahkan ketemu aja belum pernah. Udah banyak calon yang saya tawarkan ke Koko. Berkunjung dari rumah satu ke lainnya. Tapi hasilnya ZONK. Nggak ada yang nyantol satupun.


Sampai saya jengkel dengan diri saya, jengkel dengan koko. Kenapa sich sesusah ini. Kenapa rasanya tak ada kemajuan. Kenapa kok ga ada yang cocok.


Sampai akhirnya saya berdamai dengan diri saya. Saya nggak hanya harus menerima apa yang memang di takdirkan untuk diri saya saja. Tapi saya juga harus menerima apa yang di takdirkan untuk orang-orang yang saya sayangi. Koko salah satunya.


Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan berdoa sebanyak saya bisa, dan hasilnya saya serahkan semua kepada Allah. Saat saya benar-benar pasrah sama Allah, Allah ngasih keajaibannya. Koko ketemu sama jodohnya. Semua berjalan begitu cepat, ketemu bulan September, bulan Novembernya meminta ke orang tuanya.


Saat itu saya bener-bener bahagia banget. Saya berterima kasih kepada Allah, sampai tanpa saya sadari air mata saya merembes sampai ke pipi. Ada desiran aneh didalam hati yang nggak bisa tergambarkan lewat kata.


Kun faya kun. Apa sih yang nggak bisa di lakukan sama Allah. Ujian tiap manusia berbeda beda, yang harus kita lakukan adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin. Berusaha dan berdoa sebaik mungkin. Tak ada hasil yang mengkhianati usaha memang benar tapi alangkah baiknya menyerahkan hasilnya hanya kepada Sang Pencipta.


"...boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu. Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."