Tentang Dia

Dia partner debatku. Kita bisa ngobrol berjam-jam lamanya membicarakan banyak hal. Berdebat tentang berbagai macam masalah. Agama, karir, pekerjaan, kehidupan dan masa depan. Dia yang Aku sayang dan menyayangiku waktu itu.

Kini tak ada lagi debat seru seperti dulu. Kini tak ada lagi yang dengan tegas mendebatku dan menjelaskan dengan lembut. Memberi tau seperti ini dan seperti itu. Tak ada lagi ceramah berjam-jam tentang ini dan itu. Aku kehilangannya, kehilangan parter debatku. 

Aku kehilangan alarm hidupku, yang membangunkan ku tengah malam hanya untuk mengingatkan shalat. Tak ada lagi yang bernyanyi di telefon menggantikan suara mp3. Tak ada yang tiba-tiba melantunkan dengung Alquran di telingaku disela-sela pembicaraan hanya karena aku meminta untuk mengaji.

Rasanya baru kemarin dia ngoceh "aku nggak akan maksa kamu pake jilbab, itu terserah kamu. Tapi nanti kalo kita menikah aku pasti akan menyuruhmu berjilbab". Yang langsung aku tolak.

Dia pun melanjutkan "istri itu tanggungjawab suami. Kalo istriku nggak berjilbab bagaimana nanti aku mempertanggung jawabkan nya di hadapan Allah? Apa ya kamu mau aku di siksa di neraka karena kamu ga mau menutup aurat?" Penjelasanmu langsung menancap di hatiku.

Kamu pun tak pernah berhenti mengingatkan, "Al-Quran itu jangan cuma dibaca aja, tapi di baca juga terjemahannya". Yang masih sering pula aku debat. Sampai akhirnya kamu membelikanku al-quran terjemahan. Penjelasanmu setiap apa apa yang aku debat membuatku speechless.

Dan akhirnya kamu memutuskan untuk mengakhiri semua. Melepas semua angan-angan tentang masa depan bersama. Kamu bilang belum siap untuk menikah, lebih baik jangan menambah dosa. Lebih baik seperti ini tanpa hubungan. Jujur aku masih belum bisa menerima penjelasanmu.

Tapi toh aku sudah siap akan terjadinya hal itu. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk mendengar kata-kata itu darimu.

Saat kamu menjelaskan semua, atas semua tanyaku yang tak pernah ada habisnya. Toh saat semua benar-benar berakhir tak ada air mata setetes pun yang jatuh dari mataku. Aku sudah paham tak ada pacaran dalam islam. Aku hanya merasa kehilangan partner debatku.

No comments

Post a Comment