Mahameru Puncaknya Para Dewa

Mahameru (3676  mdpl)  puncak tertinggi di Pulau Jawa. Gunung yang menjadi incaran banyak para pendaki. Puncak tertingginya seakan melambai lambai memanggil para penakluk ketinggian.

Well, saya bukanlah orang yang ingin menaklukan ketinggiannya. Saya hanyalah salah seorang yang dibuat penasaran oleh orang-orang karena ceritanya.

Saat sma dulu saya pernah mendengar cerita tentang ketinggiannya, tapi yang paling bikin saya penasaran adalah cerita dari dhoni dirgantara yang disajikan lewat bukunya 5 cm. Terlebih lagi saat bukunya di filmkan.

Karena film itu, saya dan kelima teman saya ( chimot, lintang, dila, vivi, jihan) ingin kesana sebelum usia 25 tahun. Tapi baru sekarang diusia yang lebih dari 25 tahun (maaf usianya di rahasiain dulu ntar keliatan kalo uda tua wkwkw), saya bisa menjejakan kaki di gunung ini. Alhamdulillah masih dapat ijin dari Allah untuk menikmati keindahan alam semeru.

Tanggal 4-7 mei 2016 saya dan beberapa teman saya berangkat ke semeru. Rencananya ada 15 orang yang ikut, namun pas hari-H yang fix brangkat hanya 5 orang (saya, mas haris, mas ambon, kecheng dan lemu). Dari 5 orang ini yang niatnya sampe muncak 4 orang, sedangkan satu orang yaitu mas ambon rencananya cuma sampai RaKum (Ranu Kumbolo).

Kita berangkat tanggal 4 Mei 2016 pukul 14.30 WIB dari rumah saya. Kecheng, Lemu dan Mas Haris berangkat duluan karena harus mengurus administrasi disana. Sedangkan saya dan Mas Ambon berangkat 15 menit setelahnya karena mau makan bubur dulu.

Pukul 15.30 WIB saya dan mas ambon sampai di Desa Ngadas, setengah jalan ke Ranu Pani. Udara pegunungan yang dingin dan lembab sudah mulai terasa. Selain itu juga kabut tebal menyelimuti di kanan jalan, alhasil kita tidak bisa melihat keindahan pemandangan di perjalanan, karena tertutup kabut. 

Tapi, ada satu hal yang bikin saya senang melihat jalanan di kanan kiri. Bunga dahlia gunung. Yap, bunga ungu ini sudah menarik perhatian saya dari pertama kali saya melihatnya. Awalnya saya tidak tau namanya, setelah tanya mas ambon barulah saya tau namanya dahlia gunung.

Bunga ini tumbuh lebat di sepanjang jalan. Hmm.. Kelihatannya saya jatuh cinta deh sama ni bunga. Tak ada bosannya saya melihatnya, indah nian.

Pukul 16.30 WIB kita sampai di Ranu Pani. Saat kita sampai Kecheng sedang mengurus administrasi dan menulis form pendaftaran. "Ayo ikut briefing dulu aja di kantor bawah, biar dapat stempel. Kayaknya ini uda briefing trakhir. Kalo gak dapat stempel gak bisa brangkat malam ini kita" kata mas ambon.

Dan benar saja ini merupakan briefing terakhir hari ini. Dan alhamdulillah walau telat kita di ijinin masuk dan ikut briefing. Briefing berakhir setelah adzan maghrib dikumandangkan.

Setelah briefing kecheng dan lemu mengurus pembayaran di loket sedangkan saya, mas haris dan mas ambon mengusung barang bawaan ke atas dan makan bakso. Setelah itu shalat dan persiapan.

Setelah semua siap dengan peralatan dan barang bawaannya kita berdoa bersama sebelum berangkat, agar selamat sampai tujuan dan dilancarkan perjalanannya. Tepat pukul 20.00 WIB kita berangkat menuju RaKum.

Perkiraan kita sampai di Rakum pukul 02.00 dini hari. Jadi kira-kira memakan waktu 6 jam perjalanan. Untuk track dari Ranu Pani ke Rakum menurut saya tidak begitu berat, malah terkesan santai. Tanjakannya juga gak begitu banyak, tapi lumayan lah buat pemula seperti saya.

Memilih perjalanan di malam hari kelihatannya emang pas banget. Karena kita ga tau bener medannya, jadi terasa lebih santai dan gak ngerasa down duluan.

Nah ada sedikit cerita nih waktu perjalanan. Jadi kejadiannya tu waktu kita berjalan dari pos 3 menuju pos 4. Rombongan kita sudah terpisah dari rombongan lainnya. Nah ditengah jalan, waktu kita lagi asyik becandaan dan niruin lagu yang di puter dari mp3nya kecheng, tiba-tiba aja ada suara "khi' khi' khi'".

Kita langsung pada diem tu. Saya sendiri udah langsung parno denger denger suara itu. Maklum uda kena virusnya bang genta Kaskus. Dalam hati saya nyebut terus, sambil jalan. Yang saya takutin apa? 

Ntar pas lagi jalan tiba-tiba ada kuntilanak terbang gimana, kayak cerita ceritanya bang genta gitu. Di belakang saya, Lemu juga langsung teriak " amit mbah, amit" gitu terus sambil jalan. Kelihatannya sama parnonya kayak saya.

Gak berapa lama jalan kecheng yang ada didepan tiba tiba berhenti, seperti mau bilang " terusin jalan gak nih?" tapi hanya menoleh ke kita yang dibelakang. Abang saya yang kelihatannya tau keparnoan kita langsung bilang "suara kelelawar itu, ayok lanjut jalan".

Setelah si abang bilang gitu keparnoan saya pun mulai luntur. Kita lanjut jalan, meskipun suara itu seperti ngikutin kita. Lama-lama akhirnya suara itu menghilang sendiri.

Dan diluar ekspektasi, kita sampai di Rakum tepat pukul 00.00 WIB. Yup, perjalanan hanya ditempuh dalam waktu 4 jam. Padahal kata yang udah pernah beberapa kali kesana normalnya itu 5-6 jam bahkan bisa 8 jam, tergantung fisik masing-masing orang. Amazing banget deh.

Rakum waktu kami datang itu bener-bener kayak pasar malam. Beratus ratus tenda dengan cahaya head lamp dimana-mana. Bukan seperti suasana camp yang saya bayangkan. Maklumlah long weekend banyak travel agent yang open trip.

Masalahnya sekarang adalah cari tempat buat ndiriin tenda. Camping ground yang dekat dengan shelter pasti udah penuh. Jadinya kami mendirikan tenda di samping camping ground. Setelah mendirikan tenda kita makan bekal yang dibawa kemudian tidur, karena besok akan melanjutkan perjalanan ke Kalimati.
Mas Haris, Lemu, saya, Kecheng, Mas Ambon

Pagi 5 Mei 2016 di Ranu Kumbolo. Saya bangun pukul 06.00 WIB, udara masih amat sangat dingin. Badan masih belum mau move on dari dalam sleeping bag. Dan shalat subuhnya kelewatan (maaf ya Allah, tidurnya kebablasan).

"Ayo keluar, berjemur. Uda ada matahari tu" ajak si abang. Dan wow saat saya keluar tenda keadaan di luar sudah rame banget. Tenda-tenda uda bejubel lebih banyak lagi daripada saat saya datang. Uda banyak juga orang-orang yang selfie di pinggiran danau.

Pagi itu lemu dan abang memutuskan untuk tidak jadi ikut ke puncak. Badannya kurang fit sedangkan abang kakinya kram. Shock juga saya dengernya, tapi alhamdulillah kecheng mau menemani saya untuk ke puncak.

Awalnya sedikit down juga, karena saya hanya berangkat berdua dengan kecheng. Bawaan pasti tambah berat dan perjalanan tidak seramai waktu berangkat. But, its oke lah kita pasti bisa.

Pukul 10.30 WIB setelah makan dan packing saya dan kecheng berangkat. Sebelum berangkat kita berdoa terlebih dahulu. Si abang dan lemu mengantar kita sampai ke tanjakan cinta.

Mitosnya nih saat di tanjakan cinta kalo jalan sambil membayangkan orang yang kita suka dan tidak menoleh kebelakang, suatu saat nanti dia yang kita banyangkan akan menjadi milik kita. Mungkin sebagai penyemangat kali ya, karena jalannya emang nanjak banget almost 90°.

Dengan bawaan yang bertambah dan jalanan yang nanjak seperti itu saya pun sedikit kewalahan. Untungnya di tengah jalan di tanjakan cinta lemu dengan baik hati membawakan carrier saya.

Sesampai di atas tanjakan cinta kita istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan oro-oro ombo yang penuh dengan bunga warna ungu (entah nama bunganya apa, katanya sih bunga perusak, tapi bunganya cantik).
Oro-Oro Ombo

Setelah itu kita berpisah, saya dan kecheng menuju kalimati, abang dan lemu balik ke Ranu Kumbolo. Kita ambil jalan samping karena kalo pake jalan yang umum itu terlalu menjorok kebawah dan antri, sedangkan lewat samping lebih datar dan sepi karena tidak banyak yang tau.

Lagi pula lewat jalan samping kita dapat dengan leluasa menikmati keindahan oro-oro ombo. Melihat orang-orang pada selfie, ambil bunga ungu buat foto, ijak-injak bunga buat foto dan kericuhan di bawah oro-oro ombo lainnya.

Dan faktanya saya lebih suka menikmati keindahan alam ciptaan-Nya daripada selfie saat itu. Entahlah, karena capek atau memang apa yang didepan mata saya ini terlalu indah.

Setelah jalan lewat oro-oro ombo sampailah kita di cemoro kandang. Suasana lebih santai dan sepi tak seramai di oro-oro ombo. Sesuai dengan namanya, di kanan kiri jalan penuh dengan pohon cemara. 

Beberapa cemara terlihat menghitam, mungkin sisa kebakaran hutan kemarin. Di cemoro kandang ini tenaga mulai dikuras. Jalanan yang menanjak tiada akhirnya. Bonusnya (jalanan menurun atau datar) juga amat sedikit sekali.

Disini saya lebih banyak ngeluh dan jalan seperti keong. Sebentar-sebentar berhenti ambil nafas atau minum satu dua teguk air. Udara yang panas dan angin gunung yang dingin bikin muka dan bibir cepat mengering.

Disini antar pendaki saling kasi semangat, kalo kami berhenti istirahat yang lewat langsung kasi semangat. Sedangkan bila saya lewat dan mereka istirahat gantian kami yang kasi semangat. Waktu itu saya barengan sama rombongan dari Pekalongan, salip salipan dan becandain kalo pas kebetulan sama-sama istirahat. Jadi ga merasa sepi.
Jambangan

Setelah perjalanan yang melelahkan di cemoro kandang sampailah saya dan kecheng di Jambangan. Nah dari jambangan ke kalimati jalannya enak banget deh sampai-sampai dari jambangan ke kalimati saya dan kecheng ga istirahat sama skali, langsung bablas kalimati.

Di jambangan kita melewati padang savana dan hutan- hutan kecil. Ada beberapa semak pohon yang keren banget, kayak yang di film animasi kata kecheng.
Kalimati

Pukul 13.30 WIB kita sampai di kalimati. Amazing, dalam waktu 3 jam, satu jam lebih cepat dari perkiraan awal. Padahal waktu di cemoro kandang saya ngerasa bakalan lebih dari 4 jam perjalanan karena jalan saya yang lelet kayak keong.

Pas sampai di dekat shelter mulai gerimis. Cepat cepat kita (lebih tepatnya kecheng) bangun tenda. Dan benar saja tak lama setelah tenda berdiri hujan mulai deras.

Setalah hujan reda, saya dan kecheng mau ambil air di sumber mani. Kita barengan dengan anak tenda sebelah yang kebetulan uda saling kenal waktu perjalanan di cemoro kandang, rombongam dari sidoarjo. Namanya mas boing dan mas ucup, kocak deh anaknya bikin orang ngakak terus.

Awalnya mereka ga ngebolehin saya ikut soalnya ambil airnya jauh dan jalannya licin. Tapi karena saya butuh buat bersiin muka dan wudhu saya maksa ikut. Dan benar saja jalannya lumayan jauh 1 km -an. Dan jalannya menakutkan, karena kita berjalan didalam sungai yang uda kering gak ada airnya. 

"Makanya ini di namakan kalimati" kata mereka. Ambil airpun kita harus antri selain karena banyaknya pendaki, airnya mengucur sedikit sekali nggak kayak di Rakum yang tinggal ciduk di danau. "Namanya juga sumber mani lel ya ngucurnya sedikit-sedikit" kata mas ucup.

Setelah semua selesai ambil air, kita balik lagi ke tenda. Kita janjian sama mas ucup dkk buat muncak bareng jam 23.00 WIB nanti. Setelah shalat, masak dan makan kita istirahat di tenda masing-masing. 

Kecheng sudah menyetel alarm bangun jam 22.30 WIB. Tapi karena kecapekan dan tidur terlalu pulas kita gak denger suara alarm. Untungnya mas ucup bangunin kita jam 23.00 WIB, kalo ga gitu pasti kita kesiangan bangunnya.

Bangun tidur kita langsung prepare, masak dan makan biar kuat. Bawa satu botol air minum dan satu termos susu coklat, headlamp terpasang diatas kepala dan tidak lupa ranting buat tongkat. Mas ucup dkk berangkat duluan. Saya dan kecheng menyusul setelahnya, sedangkan mas boing jaga tenda di kalimati.

Perjalanan awal, saya merasa medannya tidak susah, tidak seperti yang diceritakan orang-orang. Seperti di cemoro kandang menurut saya. Tapi semakin jauh mulai deh medan yang sebenarnya kelihatan. 

Tanjakan yang melebihi tanjakan cinta, tangan menggapai ranting-ranting pohon buat pegangan. Karena selain menanjak tanahnya juga sedikit berpasir jadi licin. Sebentar sebentar berhenti buat ngatur nafas yang ngos-ngosan.

Pas di tengah-tengah jalan waktu kita istirahat duduk sebentar, ga sengaja headlamp saya menyenteri sepatu saya. And yeah sepatu saya yang bangian depan jebol.

"Cheng, sepatuku jebol, gimana nih lanjut gak enaknya?" tanya saya.

"Kalo aku terserah mbak gimana, kalo berhenti sayang juga, kurang setengah jalan ini dan kondisi badan juga masih fit" jawabnya.

"Nanti dipasirnya gimana? Menurutmu aman gak?" tanya saya lagi.

"Nah itu mbak aku juga bingung, ya udah turun aja deh daripada ntar ada apa-apa. Kapan-kapan kesini lagi toh semeru gak kemana mana kok mbak. Yang penting bukan masalah bisa sampai puncaknya tapi bisa kembali kerumah dengan selamat" celotehnya. Akhirnya kita memutuskan untuk sampai disini saja perjalanannya.

Mau langsung balik juga nanggung, akhirnya kita duduk-duduk di tengah hutan sambil memberi semangat orang-orang yang berjalan ke atas. Sambil minum susu coklat panas, bekal yang tadi disiapin. Kalo ada orang yang kelihatan capek kita bilang "ayo mas, mbak tinggal dikit lagi tu uda arcopodo". Padahal masih jauh, cuma biar mereka semangat aja. Setelah agak sepi kita turun.

Di tengah perjalanan turun, kita ketemu sama anak cewek sendirian. Saya pikir dia adalah tim Sar yang jaga di situ. Karena tadi waktu saya berangkat ada beberapa orang tim sar turun sambil teriak emergency.

Tapi ternyata bukan, ternyata dia adalah pendaki juga yang gak kuat ngelanjutin perjalanan ke puncak.

" Sendirian aja mbak?" tanya kecheng.

"Iya, yang lainnya uda pada ke atas, aku mau turun gak tau jalan jadi nunggu kalo ada yang turun tadi disini" jawabnya.

Jadilah kita turun bertiga. Rombongannya bener-bener keterlaluan deh menurut saya. Harusnya ada satu orang yang nemenin buat turun, jangan dibiarkan sendirian begitu saja, apalagi ini cewek.

Padahal di briefing juga uda di jelasin jangan sampe berjalan sendirian, kalo ada temennya yang gak kuat harus ada satu orang yang berkorban buat nemenin turun, karena bahaya banget kalo berjalan sendirian di hutan. Kemungkinan tersesat atau di serang binatang buas sangat besar bila berjalan sendirian.

Sesampai di camping ground, kita langsung ketenda bertiga. Bikin minuman panas dan ngobrol ngalor ngidul. Sampe jam 04.15 WIB, temen satu rombongan cewek tadi ada yang dateng dan dia balik ke tendanya. Setelah itu saya shalat dan lanjut tidur. Esok paginya kita packing dan berangkat balik ke Ranu Kumbolo setelah sarapan. 
Ranu Kumbolo yang padat 

Perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo lebih santai. Menikmati setiap sudut jalan yang di lewati, juga foto-foto di sepanjang perjalanan. Perjalanan balik hanya memakan waktu 2 jam perjalanan. Sesampai di Ranu Kumbolo siang hari. Istirahat dan makan. Keadaan lebih ramai lagi dari pada saat saya tinggalkan ke kalimati. 

Di samping tenda saya ada rombongan alumni pecinta Alam angkatan 80-an, jadi uda lumayan berumur tapi mereka masih segar dan kuad, hebat banget deh. Meskipun mereka pake porter dan guide.

Dan guide mereka itu temennya mas ambon namanya mas gimbal. Jadi beruntunglah kita yang hobi makan tapi males masak. Karena sering dikirimin makanan sama mas gimbal. Sehari itu kita habiskan di Ranu Kumbolo dan rencana balik ranu pani besom pagi

Pagi 7 Mei 2016, masih di Ranu Kumbolo. Udara masih tetap dingin menusuk, suasana juga masih ramai. Kita uda prepare buat pulang. Sebagian beres beres tenda sebagian lagi masak buat sarapan. 

Pukul 09.30 WIB kita berangkat balik ke ranu pani. Kali ini kita lewat jalur ayak-ayak. Sebenarnya jalur ini ditutup bagi pendaki, tapi masih sering di lalui para porter, karena nanti tembusan jalannya tu di Desa ranu pani.

Karena uda kenal beberapa porter kita pun bareng ma mereka. Kalo lewat jalur ini medan awal emank agak susah karena nanjak tapi setelahnya turun terus. Jadi kalo lewat jalur ini lebih cepat.

Yang saya suka lewat jalur ini adalah pemandangannya. Jalur pertama kita melewati padang savana yang lebih indah daripada di kalimati. Kemudian di jalur menanjaknya kita bisa melihat ranu kumbolo. Good view lah. Meskipun perjalanan awal terasa lebih berat. 

Perjalanan pulang kita tempuh dalam waktu 3 jam perjalanan. Kita sampai di Desa Ranu pani sekitar pukul 12.30 WIB. Setelah makan kita pun lanjut pulang ke Malang.

Terima kasih buat kecheng, mas ambon, abang dan lemu uda nemenin sampai ke Mt. Semeru. Dan terima kasih buat Mt Semeru memberikan keindahannya, membuat saya merasa sangat kecil di hadapan-Nya. Membuat saya merasa  amat bersyukur atas karunia-Nya. Terima kasi ya Allah sudah mengijinkan saya sampai sana dan mengagumi ciptaan-Mu. 

Tidak ada komentar