Tempat Shalat Terindah

Masih tentang Gunung Lawu dan kisah kisahnya. Maaf ya blog nya isinya lawu mulu. Biar kamunya makin lav u sama aku #eeaa. Gini nih jadinya kalo kelamaan jombz #duh.


Setiap traveling kemanapun, saya berusaha untuk nggak ninggalin yang namanya shalat. Karena bagi saya, seorang muslim, itu merupakan kewajiban. Nggak terkecuali ketika hiking. Meskipun ya kalo pas di gunung cobaannnya lebih banyak. Kayak hawa yang dingin, air yang kurang, nyari tempat untuk shalat yang nyaman susah , rasa lelah dan godaan godaan untuk meninggalkan shalat lainnya.


Karena saya berangkatnya se team, jadi ada aja yang cekcok masalah ibadah yang satu ini. Karena se taem kan beda-beda orangnya, beda-beda prioritasnya dan beda-beda maunya. Tapi alhamdulillah biasanya saya ada temennya buat shalat. Kayak waktu ke Semeru ada kecheng, ke Rinjani ada kecheng n mubien, ke buthak ada mubien, ke Lawu ada mubien. Jadi saya nggak ngerasa sendiri.


Waktu hiking ke gunung lawu kemarin, saya menemukan spot shalat yang indah banget. Mungkin bukan karena tempatnya ya, tapi karena situasinya. Waktu itu perjalanan menuju pos 2. Setelah melihat sunset di perjalanan yang masyaAllah keren banget. Kami lanjut perjalanan.


Entah jarang-jarang ya bahkan kayaknya nggak pernah lihat Mas ambon dan mubien merasa putus asa di tengah jalan. Tapi saat itu mereka udah pingin berhenti aja. "Rek nggoleko panggon gawe nge camp rek, ga iso kene sampe pos 2, ojok di pekso" kata mas ambon ke saya dan lemu. Nah akhirnya ketemulah tempat ini, tapi kalo buat ngecamp tetep nggak bisa karena lahan datarnya sempit dan berbatu.


Dan jarang-jarang mas ambon ngingetin saya shalat. Biasanya malah cekcok masalah air buat wudhu. Pas waktu itu memang sudah waktunya maghrib, dia bilang "nduk, sholato sek wes, sopo ngerti mbari awakmu shalat onok solusi". Dan karena memang persediaan air menipis dan sumber jauh berada di pos 5, maka saya terpaksa tayamum.


Tempatnya sendiri nggak begitu lebar dan sedikit berbatu. Ada jerami yang berserakan di sana. Jadi tempatnya bersih nggak berdebu. Dengan beralaskan jas hujan kresek yang saya bawa. Menghadap ke arah kiblat, lurus kedepan. Jika melihat ke bawah terlihat jurang, bila melihat kedepan Samudera awan. Udara sudah mulai dingin waktu itu ditambah lagi kami hanya diam. Gigi-gigi saya sampai bergemeletuk.


Disana, saya merasa berada di tempat yang tinggi sekali tapi juga merasa sangat kecil. Merasa ketakutan dan khawatir. Ntar kalo perjalanan ke pos 2 masih jauh gimana dengan kondisi teman-teman yang udah mulai lelah dan nggak bersemangat. Hampir merasa putus asa. Bener-bener yang meminta sama Allah untuk keselamatan kami semua.


Dan Alhamdulillah, setelah shalat kita lanjut jalan ternyata pos 2 dueket banget cuma 15 menit jalan. Hanya ekspektasi kami aja yang salah. Mikirnya pos 2 masih jauh.


Bagi saya jawaban setiap doa itu tidak selalu berupa sesuatu yang nyata yang bisa dilihat. Bisa jadi adalah diberinya rasa semangat, ketenangan hati dan keselamatan.

No comments

Post a Comment