Menikmati Masa Sekarang


Rutinitas saya benar-benar berubah 180 derajat setelah saya resign dari pekerjaan saya. Ketika saya menjadi seorang pekerja di salah satu perusahaan swasta di kota saya, pagi hari saya dimulai dengan bangun pagi, mandi, bikin sarapan dan nyiapin bekal (tapi kalo pingin makan diluar ya nggak). 

Dikantor haha hihi dengan teman kantor, bikin laporan, dan pulang. Sampai dirumah kalo ga bantu si emak jaga toko ya nonton tv sambil leyeh-leyeh. Begitu terus setiap harinya.

Setelah saya resign, saya mulai mencoba mencari pekerjaan baru lagi (dan gak dapet-dapet #hiks). Im too focus in something that i cant do well. Ada masa saya benar-benar down banget. Saya merasa tertekan dengan keadaan saya. Dan berujung menyalahkan diri saya sendiri dan menyalahkan keadaan. 

I fell useless.

Did you know? Setiap orang mempunyai masa kritisnya masing-masing, masa dimana dia merasa bener-bener down dan sedih banget. Istilah "hidup itu seperti roda, ada saatnya kita diatas dan ada saatnya kita dibawah". Yes, its true!! Setiap orang gak akan  bahagia terus dan ga akan sedih terus. 

Bukankah bahagia ga akan terasa kalau ga ada sedih, begitu pula sebaliknya.

Dalam masa kritis tersebut saya selalu berfikir dan berfikir what i have to do? Apa yang harus saya lakukan untuk meninggalkan masa ini. Saya nggak mau stuck di masa ini, saya harus terus berjalan entah kemana, nggak tau tujuannya.

Dan dalam proses tersebut, entah bagaimana Allah menunjukkan saya akan hal-hal yang tak pernah saya sadari. Saat saya ingin menghilangkan kegalauan saya, saya di pertemukan dengan teman-teman saya yang ternyata masalahnya lebih sulit daripada saya, lebih complex daripada saya.

Dan nyatanya mereka yang memiliki masalah yang lebih lebih tersebut masih bisa tersenyum dan bercanda. Masih bisa ngakak bareng dengan saya walau guyonan saya garing.

Dan apa apa yang saya temui pada masa itu membuat saya berdamai dengan diri saya. Kadang saya suka berfikir, kenapa Allah memperlihatkan kesedihan atau masalah teman saya kepada saya padahal saya tak ingin, tak pernah meminta untuk melihat kesedihan teman-teman saya.

Allah memberikan apa yang kamu butuhkan, bukan apa yang kamu inginkan. Yup, saat itu memang saya perlu untuk tau bahwa masalah tak hanya datang pada saya. Jadi tak perlulah  mendramatisir dan merasa menjadi orang yang paling sedih sedunia. Toh buktinya banyak orang-orang yang seharusnya sedih ternyata bisa tegar dan terseyum.

Dan sekarang saya sudah bisa menikmati masa sekarang saya. Roda saya sudah berputar, berjalan terus walau kadang melambat. Berusaha untuk selalu berjalan dijalan yang lurus.

"Allahumma arinal haqqo haqqo wa arinal baatila baatila warzuqnaj tinaabah".
"Ya Allah tunjukkanlah bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah dan berilah kami kemampuan untuk menghindari kesalahan itu".

Tidak ada komentar