ASIYAH

 
Judul : Asiyah, Sang Mawar Gurun Fir'aun
Terjemahan dari, Nil in Melikesi
Penulis : Sibel Eraslan
Penerjemah : Ahmad Saefudin, Hyunisa Rahmanadia, Erwin Putra
Penerbit : Kaysa Media (Grup Puspa Swara) Anggota Ikapi
Halaman : vi + 444 hlm; 20 cm

Pertama kali lihat buku ini saya langsung tertarik buat membacanya. Karena kisah tentang Ratu Asiyah sangat jarang di ceritakan. Sebagian besar cerita Nabi Musa tentang Asiyah hanya menceritakan bahwa dia mengambil Musa kecil dari sungai Nil dan mengasuhnya di istana.

Dan kebanyakan tidak menyebutkan namanya Asiyah, tetapi disebutkan sebagai istri fir'aun. Karena itu sayapun jadi penasaran tentang sosok sang Ratu.

Cerita di awali dengan runtuhnya kerajaan yang di pimpin Raja Akhen, seorang raja yang percaya pada Tuhan yang Satu ajaran Nabi Yusuf. Semua pengikutnya di bantai dan menyisakan sedikit, sejarah tentang sang Raja pun dihapuskan.

Kepercayaan tentang Tuhan yang Esa pun dihapus digantikan dengan Tuhan yang banyak dan penyembahan terhadap berhala. Diantara pengikut raja yang selamat terdapat abdinya yang paling setia yang bernama Apa dan 4 anak keturunan kerajaan yang nantinya akan mengubah sejarah kerajaan Mesir.

Empat anak tersebut adalah Ra yang memiliki sifat kepemimpinan dan wibawa yang besar tetapi sombong dan angkuh yang nantinya menjadi Raja mesir Fir'aun. Ka yang pintar alkimia yang pendiam tapi tak setia yang nantinya menjadi peniliti kerajaan.

Ha yang gagah dan berwibawa tapi licik yang nantinya menjadi penasehat raja. Dan yang terakhir Yes yang di panggil Asiyah, wanita rendah hati dan dermawan yang nantinya menjadi istri Ra, Ratu Mesir. 

Saat mereka beranjak dewasa, diangkatlah Ra sebagai Raja dan Asiyah sebagai Ratu. Kecintaan Ra terhadap Asiyah terkalahkan oleh bujuk rayu Ha yang menawarkan kekuasaan dan harta. Membuat Ra menjadi seorang raja yang dzalim, yang menindas kaum papa.

Sampai pada suatu hari Raja Ra bermimpi bahwa suatu hari nanti kekuasaannya akan di hancurkan oleh seorang anak lelaki kaum ibrani. Kaum yang selama ini dia jadikan budak Mesir. 

Karena mimpinya itu di titahkannya untuk membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Satu tahun adalah tahun kematian dan satu tahun berikutnya adalah tahun kelahiran, begitu seterusnya.

Dan pada tahun kematian, lahirlah seorang anak laki-laki dari seorang perempuan bernama Yakobed. Bayi laki-laki yang akan menghancurkan kekuasaan Raja dzalim. Atas perintah Allah, yang diperolehnya dari mimpi, Yakobed memasukkan bayi laki-laki itu kedalam peti dan menghanyutkannya di sungai nil.

Ratu Asiyah, yang pada saat itu sedang berada di sungai Nil bersama dua abdinya menemukan bayi laki-laki dalam peti itu dan di beri nama bayi itu Musa karena di ambil dari air.

Ra, mendapatkan berita dari Ha tentang bayi laki-laki yang hidup di tahun kematian langsung menemui Asiyah. Demi melihat senyum sang Ratu, demi melihat kegemberiaan sang Ratu yang menggendong bayi Musa, meloloskan permintaan sang Ratu untuk mengangkat Musa menjadi anak. 

Atas rayuan Ha sang penasehat, raja Ra menikahi putri dari utara untuk memperkuat kerajaan dan menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Fir'aun. Mengetahui suaminya menyatakan dirinya sebagai Tuhan, hati sang ratu hancur. Dia mengasingkan dirinya dan Musa ke istana musim panas Avaris. 

Buku yang sangat menarik, semacam buku biografi tapi di sajikan dengan cara bercerita sehingga mudah di mengerti. Bahasanya nggak berat dan nggak membosankan. Penulis menyajikan dengan baik sifat dan sikap Ratu Asiyah. Beberapa di selipi dengan ayat-ayat Al-quran yang memang membahas kisah Nabi Musa, seperti Qs Al-Qhasas dan Qs Al-A'raf.

Karena memang buku terjemahan jadi kadang ada beberapa kalimat yang aneh. Seperti saya pernah menemukan kata 'yang' dibelakang kalimat kemudian titik. Kesalahan cetakan juga beberapa kali saya temui, ada kata yang hurufnya hilang satu. 

Ratu Asiyah, mengajarkan kepada kita untuk sabar, rendah hati dan dermawan. Kehidupan istana yang begitu megah tidak dapat membuatnya bahagia. Peraturan-peraturan yang di buat sang raja, tidak sesuai dengan jiwanya yang penuh kerendahan hati.

Kedzaliman sang raja membuat hatinya semakin sedih. Tapi dia bisa melaluinya dengan kesabaran yang sangat tinggi. Betapa kuatnya dia menggenggam keyakinannya terhadap Allah yang Esa, diantara orang-orang yang menganggap rajanya adalah Tuhan.

"Asiyah, Ratu Yesiyis, adalah ratu utama.

Meskipun berada dibawah tekanan lingkungan istana, hal ini takkan pernah salah. Dia adalah ratu utama.

Asiyah adalah seorang sultanah yang tak pernah berbalik dari ajaran Tuhan yang Satu Nabi Yusuf yang berada dalam jiwanya sejak masih anak-anak.

Dia adalah orang yang akan menjadi sultanah yang membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat.

Mendedikasikan kebaikan kepada rakyatnya dan Mesir.

Ketenarannya pun semakin bertambah diantara kalangan masyarakat tingkat bawah dan para Apiru.

Bahkan, raja yang dilaknat karena kedzaliman dan penyalahgunaan kekuasaan pun menaruh hormat kepada Asiyah."


No comments

Post a Comment