Berkerudung

Berkerudung merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan bagi seorang wanita muslim. But, till now I cant do that. I dont know why, I just feel that I'm not ready to use viel(krudung).

Aku merasa lebih baik memperbaiki sikap terlebih dahulu. Karena aq takut dengan sikapq sekarang yang masih suka ugal2an aku bisa merusak jilbabku. 

Banyak yang menyarankan (memberi nasehat) agar aku berkerudung. They say " Kalo kamu berkerudung pasti lebih cantik ".

Kalo dibilang seperti itu paling aku hanya tersenyum tipis dan dalam hati berkata "hellloww emank gue berkerudung hanya untuk dibilang cantik? Itu bukan sebuah alasan yg tepat untuk seseorang berkerudung".

Sebenernya emank bener sich seorang wanita yg berkerudung akan terlihat lebih canti, kalem dan manis. Tapi menurut aku, kalo kamu berkerudung hanya agar terlihat cantik, terus kl kamu jadi jelek kamu bakal ngelepas krudungmu gitu.

Dulu pernah waktu smpp kelas 3 aku berniat, nanti kalo sma aku mau memakai kerudung. Tapi ku urungkan niatku, aku terlalu takut untuk melakukan perubahan besar. Sejak saat itu niatku jadi maju mundur.

Pada waktu kuliah pernah aku iseng bertanya pada temen2ku yang berkerudung. Aku tanya "Kenapa kamu memutuskan untuk memakai kerudung?"

Tapi dari jawaban mereka ga ada yang ngena di hati. Kebanyakan dari mereka menjawab "ga tau, ya pingin aja, lagian kalo pake krudung kan terlihat lebih cantik".

Tapi ada jawaban dari seorang temen seperti ini "Bagiki itu kewajiban, ya mau gak mau aq harus pake. Seperti shalat suka ga suka kan harus dikerjakan". Jawaban yang bagus dan pas banget sebenernya, tapi aku masih belum puas dengan jawaban itu. Entahlah, bagiku masih ada yang kurang.

Kokoku juga sering bilang "Pakelah krudung ngik, biar adikku jadi cantik". Aku tahu dia ingin yang terbaik buat adiknya, tapi sampai saat ini aku masih blum bisa melaksanakannya.

Kadang kalo temen tanya " kapan kamu kerudungan lel ". Aku jawab "nanti kalo disuruh ma suami".

Pernah juga pas aku lagi sharing ma pacarku, dia pernah ngomong " Aku pingin kamu berkerudung, tapi itu terserah kamu, berkerudung gak boleh dipaksain harus dari keinginan diri sendiri dan jangan melakukannya karena orang lain".

Sebenarnya niat itu sudah ada dari dulu, tapi to do thaht its so heavy. Mungkin aku membutuhkan hidayah biar dapat melakukannya.

Kata temenku " Hidayah gak datang dengan sendirinya, harus dicari, kalo kamu ga nyari ya kapan dapat hidayahnya".  Dan yah saat ini merupakan proses pencarianku agar mendapat apa yang mereka sebut hidayah.

Cinta dan Pernikahan

Kali ini aku akan membahas tentang cinta dan pernikahan.

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta?
Bagaimana saya bisa menemukannya? ”

Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?”

Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting – ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya".

“Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? “

Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”

Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”

Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan… tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali.

Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya. Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuat kita tertarik, Itu bukan pilihan itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan.. Itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.

Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari Bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik,pandai, dan kaya Daripada pasangan kita dan tetap kita memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

Perasaan cinta, simpatik, tertarik. Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan. Berbicara tentang pasangan jiwa, Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : Nasib membawa kita bersama.

Tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil.Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untuk kita, Tetapi tetap berpulang pada kita untuk melakukan pilihan apakah kita ingin melakukan sesuatu untuk mendapatkannya atau tidak.

Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, tetap mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita lakukan.

Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai, TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang Sempurna. (copas dari lapak sebelah)

25 years old

Tepat pukul 00.00 tanggal 4 oktober 2013 umurku genap 25 tahun. Sudah seperempat abad aku bernafas di dunia ini. Sudah banyak hal yang aku lakukan, sudah banyak orang yang aku temui, sudah berbagai macam masalah aku hadapi.

Dan bagi sebagian orang adalah umur yang pas buat seorang wanita untuk menikah. Dan bahkan untuk orang yang hidup di daerah pedesaan jika seorang wanita belum menikah di umur 25 artinya dia tidak laku atau bahasa lembutnya 'perawan tua'.

But yes here me now, 25 years old and single. Kelihatannya memang benar, semakin bertambah usiamu semakin complex masalahmu, semakin rumit dan tekanan semakin besar. Kamu tidak bisa untuk cuek atau semaunya sendiri dalam menyelesaikan masalah.

Semua harus dipikirkan baik-baik, intinya bijaksana dalam menentukan keputusan. Memang bener kata iklan 3 itu "Jadi orang gedhe itu menyenangkan, tapi susah buat dijalanin".

Dan seperti biasa urutan pertanyaan yang selalu ditanyakan orang adalah

1. Saat kamu lulus sekolah, mau kuliah dimana?

2. Saat kamu sudah kuliah, kapan wisuda?

3. Saat sudah wisuda, kerja dimana?

4. Saat sudah kerja, sudah ada calonnya (istri/suami) belum nih ?

5. Saat sudah sudah ada calonnya, kapan nikah?

6. Saat sudah nikah, sudah ada momongan belum?
dan begitulah seterusnya.

Kadang lingkungan seperti mengharuskan kita untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Misalnya saja disaat kamu sudah wisuda tapi belum bekerja, pasti pertanyaan selanjutnya adalah kenapa kok gak kerja? Gak nyoba ngelamar pekerjaan ta? mungkin itu hanya pertanyaan sepele, tapi sometimes menyakitkan.

Dan posisiku sekarang adalah di pertanyaan no 4. Pertanyaan no.4 bagiku sama-sama sering ditanyakan seperti pertannyaan no 3 sebelum aku dapat kerja, seperti pertanyaan no 2 sebelum aku wisuda dan sama seperti pertanyaan no 1 waktu aku lulus sekolah. Pertanyaan yang ditanyakan teman, tetangga, saudara atau entah siapapun. Pertanyaan yang kadang bikin tertekan, karena aku tidak bisa menjawab dengan jawaban yang mengarahkanku untuk pertanyaan selanjutnya.

Di saat aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan umur segitu, tapi ternyata calon suami belum punya. Sebenarnya untuk apa juga mempedulikan omongan orang lain. toh yang menjalani hidup kan kita sendiri bukan mereka. Tapi kadang pertanyaan-pertanyaan itu membuatmu merasa bahwa kamu berbeda dari yang lai atau kamu tidak sebaik yang lainnya bila tidak menjawab dengan jawaban yang sesuai keinginan mereka. Yang pastu nanti bila sudah waktunya akan ada seseorang yang melakukan hal seperti ini kepadaku

Diwaktu, tempat, dan orang yang tepat.

When You Feel Envy......

Rasa ini, rasa yang pasti menganggu setiap orang. Setiap orang pasti merasakan rasa ini. Disadari atau tidak. Kadang ada yang menyangkal, tapi ada juga yang dengan terang-terangan mengakui.

Dan tentunya rasa ini juga menghampiri aku. Secara aku juga seorang manusia yang memiliki hati, sama seperti manusia lainnya. Meskipun aku tahu iri hati adalah penyakit hati yang jahat di dunia ini. Yang seharusnya dihindari, tapi tetap saja rasa itu kadang muncul di diriku, baik aku sadari atau tidak.

Dulu di saat beberapa temanku sudah selesai menyelesaikan skripsi, sedangkan aku masih terlunta lunta bimbingan. Rasa itu datang dengan keganasannya, membobol hatiku yang sudah aku pagari dengan kuat.

Lebih lebih saat temanku sudah wisuda sedangkan aku masih setia bimbingan. Padahal kita memulai belajar bersama-sama, ngerjain tugas sama2, nilai juga gak beda jauh, tapi kenapa mereka bisa wisuda lebih dulu sedangkan aku tidak.

Kemudian saat aku sudah wisuda, dan mulai mencari pekerjaan. Rasa iri itu datang disaat aku masih sibuk mencari kerja sedangkan temanku yang lain sudah mendapat pekerjaan.

Aku berpikir, kenapa aku tidak bisa mendapat pekerjaan secepat mereka, padahal aku merasa kemampuanku sama bahkan lebih dari mereka, merasa aku juga seharusnya bisa.

Disaat aku sudah mendapat pekerjaan, rasa iri itu tetap datang. Aku merasa iri dengan mereka yang mendapat gaji yang lebih tinggi dari pada aku. Mendapat pekerjaan yang jam kerjanya tidak sepadat jam kerjaku. Kenapa mereka begitu beruntung, kenapa aku tidak seberuntung mereka.

Aku tahu rasa iri itu akan selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi. Kamu akan merasa iri terhadap mereka yang bisa mendapatkan apa yang tidak bisa kamu dapatkan.

Tidak hanya orang dewasa yang sudah mampu menilai sesuatu, anak kecil pun juga rentan dengan rasa ini. Lihat saja saat anak kecil melihat mainan temannya lebih bagus daripada dia, dia pasti akan merengek meminta mainan yang sama atau bahkan lebih bagus dari mainan temannya itu.

Sebenarnya setiap orang memiliki rasa iri yang sama, tapi tiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri untuk menghadapinya. Semua punya cara sendiri-sendiri untuk memenangkan rasa iri ini. Rasa ini memang sangat menyakitkan membuat sesak di dadamu.

Bagiku untuk meredam rasa itu, untuk dapat mendingikan rasa itu. Aku hanya perlu bersyukur dengan kehidupanku. Mungkin jawabaku terdengar sangat naif, atau mungkin kalian berfikir bahwa aku sangat munafik.

But, yeah aku selalu berusaha untuk melakukan itu. Bagaimanapun keadaanku saat itu, separah apapun rasa iri itu. Jika kalian tanya rasa syukur itu aku peroleh dari mana, aku memperolehnya disaat aku melihat kebawah. Menurutku hidup tidak selalu harus melihat keatas, kadang kita harus melihat kebawah agar bisa bersyukur dengan apa yang kita peroleh.

Disaat aku iri dengan teman-temanku yang sudah menyelesaikan skripsinya, aku melihat ada kakak tingkatku yang skripsinya sama belum selesainya dengan aku. Disaat aku telat wisuda aku melihat ada temanku yang belum wisuda saat aku wisuda.

Disaat aku melihat temanku cepat mendapat pekerjaan, aku melihat ada banyak orang disana yang menganggur lebih lama dari aku. Disaat aku melihat gaji temanku lebih tinggi dari aku, aku melihat ada banyak juga temanku yang gajinya lebih rendah daripada aku tetap bertahan di pekerjaannya.

Bagiku hidup itu harus seimbang, ada saatnya kita di atas ada juga saatnya kita dibawah. 

Analogi kupukupu

"Kupu-kupu ketika hidup dia terbang dengan lincah kesana dan kemari. Mempesona karena keindahan warnanya. Tapi dia awalnya seekor ulat yang buruk rupa dengan prestasi tertinggi memanjat ranting.


Namun ulat tidak puas dengan prestasi ini. Setelah mengumpulkan semua bekal, dia mengasingkan diri, dan bertapa dalam kepompong. Mengolah dirinya untuk menjadi lebih baik. Setelah cukup dimasa pengasingan, dia berusaha keras merobek kepompongnya yang  liat, pelan-pelan dia merenggangkan badannya.


Sayapnya yang basah dan ringkih dikepak-kepakkan sehingga menjadi kering dan kuat. Dia hirup udara untuk menguatkan badannya. Dulu hanya merayap diranting, kini terbang bebas ke angkasa. Dulunya ulat yang lemah dan jelek kini jadi kupu-kupu bersayap indah. Sesuatu itu bisa indah pada waktunya." (Rantau-Muara)


Kita harus beranu merobek keterbatasandan keluar dari zona nyamab. Jangan jadi ulat terus, kita harus jadi kupu-kupu, merantau kedunia baru, terbang mencari bunga dan madu. Seperti kata plato "suatu saat manusia akan terkurung dalam gua, dimana dia takut untuk melangkah keluar dari gua itu. Karena dia sudah merasa nyaman disana". 


Tapi dia tidak tau diluar gua itu ada dunia yang lebih terang dan indah. Hanya orang-orang yang berani keluar dari zona nyaman itu yang dapat melihat keindahan dunia luar. Sekarang semua tergantung pilihanmu, meninggalkan zona nyamanmu dan menjadi lebih baik ato tetap dizona nyamanmu dengan segala kemudahan yg kau dapat.

Rumput Tetangga Lebih Hijau


Kenapa rumput tetangga selalu Nampak lebih subur?? Karena kita tidak pernah melihat apa yang kita miliki, tidak pernah mensyukuri apa yang kita punya. Sehingga we always feel envy to the others. Padahal sebenarnya belum tentu loh orang lain yang kita lihat bahagia dengan kehidupannya benar-benar merasa bahagia seperti yang kita lihat.

Nih kejadian banget ma aku, saat itu aku baru aja turun ke Divisi. Sebagai anak trainingan yang masih belum ngeh ma jobdesc dan belum tau harus melakukan apa-apa. Setiap hari berangkat ke kantor pagi, sesampenya kantor gak dikasi kerjaan apa-apa dan ga tau harus ngapain, terus sorenya pulang. And when I was in the office, I was so bored, nothing to do. Kadang malah internetan ga jelas  atau maen games minesweeper.

Nah waktu itu ada juga anak trainingan yang sama kayak aku. Dia sudah lebih dulu beberapa hari dari pada aku  dan dia sudah diberi kerjaan ma A/R Head nya. Waktu itu aku ngerasa, enak ya jadi dia udah ada kerjaannya, udah tau harus ngapain di kantor  dan pastinya gak bosen di dalem kantor. Kira-kira 2 minggu berlalu. Aku tetep masih belum di kasi kerjaan, sedangkan anak yang satunya lagi kelihatannya udah lincah banget ma kerjaannya.

Sampai pada suatu pagi, aku datang kekantor dan dia juga sudah datang. Tiba-tiba dia datang ke mejaku. Berbincang-bincanglah kita, dan kalian tau apa yang dia ceritakan. Dia bilang enak ya kalo jadi aku, kerjaannya gak banyak, pulangnya juga gak sampe malem. And do you know last time I hope that’s I wanna  be like her  but now she tells that’s she wannna be like me.

Kadang kita emank menginginkan kehidupan kita bisa seperti kehidupan orang lain. Tapi tahukah kalian banyak orang di luar sana yang menginginkan kehidupan seperti kehidupan kita. Bersyukur, itulah salah satu alat penyeimbang untuk sifat manusia yang tidak pernah puas. Mensyukuri apa yang kita miliki, menjaga baik-baik apa yang telah di berikan oleh-Nya. Dengan begitu kita bisa mengatakan rumputku lebih asik dari pada rumput tetangga. Karena Dia tau takaran yang pas buat umatnya.

Mimpi Yang Terlupakan

Dulu waktu jaman-jaman kuliah semester 5-6an aku dan seorang sahabatku pernah mempunyai mimpi. Waktu itu dia bilang “ayo kita nanti kalo udah lulus kuliah pergi mencari kerja di Jakarta”. Dan aku dengan gembira menyambutnya “ iya ayok aku juga pingin merantau kesana”.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kita tak pernah lagi membahas tentang mimpi kita itu. Pada saat semester 7-8an kita udah pada sibuk mengerjakan skripsi, mencari data kesana kemari, antri buat bimbingan, dan kesibukan-kesibukan mahasiswa tingkat akhir lainnya yang yah kalian tau sendiri lah.

Pada akhir semester 8 dia berhasil menyelesaikan skripsinya, sedangkan aku masih bingung dengan data-dataku. Sebulan setelahnya dia wisuda dan mulai mencari pekerjaan. Dan aku masih sibuk bolak-balik kampus buat bimbingan. 3 bulan setelah wisuda dia mendapat pekerjaan di salah satu bank swasta di Surabaya dan aku berhasil menyelesaikan skripsiku. 2 bulan kemudian aku wisuda.

Setelah wisuda aku tidak langsung mencari kerja, tapi aku ikut kusus bahasa inggris di Pare, Kediri selama 6 bulan. Aku mulai sibuk dengan jadwal kursusku dan dia sibuk dengan pekerjaannya, sehingga kita udah jarang sekali komunikasi, baik melalui sms, telfon bahkan ketemu. Kita menjalani hidup kita masing-masing.

Saat aku di Pare, teman-temanku yang lulusannya barengan sama aku udah mulai melamar pekerjaan, dapat panggilan tes, interview dan lain sebagainya. Sebenarnya bukannya aku gak ingin dapat kerja, aku Cuma mau menyelesaikan kursusanku dulu, step by step lah pikirku. Lagi pula kata mama lebih baik selesaikan kursus dulu ntar kalo udah pinter bahasa inggrisnya pasti cepet kok dapet kerjanya.

Aku pikir mungkin setelah kursus 1 ato 2 bulan pasti dapat kerja. But, kadang apa yang kau rencanakan itu tidak berjalan sesuai dengan apa yang kau harapkan. Memang sih sebulan setelah aku dari Pare aku ketrima kerja di salah satu perusahaan trading di Surabaya. Tapi ternyata mencari kerja itu kayak beli baju di toko, kalo kamu gak cocok ya gak jadi beli. Aku gak cocok dengan pekerjaannya jadi aku lepaskan sudah, padahal udah ikut training selama 3 hari. Bolak balik Malang – Surabaya.

Setelah itu, 3 bulan kemudian aku ketrima kerja di salah satu pabrik air minum di daerah Gempol, Pasuruan. Hari pertama training aku udah bad feel ma tempat kerjanya. Aku pikir, seorang admin itu kerjanya ya di dalam ruangan, ya emank sich ini di dalam ruangan tapi ruangannya itu berada di ruang produksi.  Dimana ruang produksinya itu berisik dan kotor. Dan juga kerjanya menggunakan system shift. Akhirnya esoknya aku ga masuk dan mengundurkan diri.

Setelah itu adalah masa-masa downku. Bener-bener feel bad. So envy when I looked almost of my friend got job. Aku tetep berusaha mencari kerja lagi. Kali ini teman seperjuanganku adalah teman yang lulusnya satu semester sesudah aku. Rasanya miris gitu, ibaratnya lagi pertandingan lari ya kamu udah lari duluan setengah set eh tiba-tiba aja ada lawanmu yang baru lari tapi dia udah nyusul aja di sebelahmu, sakit banged kan rasanya.

Selang 2 bulan kemudian kau ketrima kerja disalah satu perusahaan leasing. Awalnya ku gak tau ini perusahaan apa. Saat dapat SMS untuk interview HRD aku udah underestimate duluan. Aku juga gak pernah ngerasa pernah kirim lamaran di perusahaan ini. Tapi pas hari –H aku datang aja, selain aku penasaran dengan perusahaan ini juga buat ngisi waktu  aja daripada di rumah.

Pas datang eh ternyata dealer HONDA. Setelah di tanyai tentang kepribadian kemudian disusul pertanyaan ini

HRD       : Mau ditempatkan di seluruh Indonesia?

Aku        : Gak mau Pak, saya maunya di Malang saja

HRD       : Kenapa?

Aku        : Gak di ijinkan sama orangtua

HRD       : Disini kamu melapar buat posisi apa? Kok ini gak di isi?

Aku        : Maaf Pak sebelumnya, kemarin saya hanya di SMS buat dating interview aja, jadi saya tidak tau posisi yang dibutuhkan oleh perusahaan

HRD       : terus kamu pinginnya posisi yang seperti apa?

Aku        : yang sesuai sama bidang saya pak, Analyst.

HRD       : kalo begitu DCA ya, hmm kalo posisi ini minimal penempatannya di Jakarta, gini aja kamu ngomong dulu sama orangtuamu, nanti kalo boleh kamu konfirmasi ke kita. Gimana?

Aku        : baik Pak.

Sepulangnya, aku langsung ngomong sama mama.

Aku        : Ma, ini aku ketrima kerja tapi penempatannya di Jakarta, gimana enaknya??

Mama   : ya gak papa di coba aja

Aku        : tapi gajinya UMR

Mama   : gak papa buat cari pengalaman, ntar disana sambil cari pekerjaan yang lebih baik lagi.

Dan akhirnya aku ambillah pekerjaan ini. Setelah mengumpulkan berkas-berkas, aku berangkat ke Jakarta di anter mama dan budheku. And did you know?? Sahabatku yang satu ini ternyata juga berada di Jakarta. Dia sudah 2 minggu berada di kota ini saat aku datang. Dia bekerja di salah satu bank BPD di Jakarta Pusat, dan kantornya tidak jauh dari kantorku.

Weekendku pertama di Jakarta, kuhabiskan dengan hangout bersamanya. Dia bilang “ Masih inget gak, kita pernah bilang kalo akan merantau ke Jakarta”. “haha iya ya aku juga baru sadar”. “akhirnya kita sama sama di Jakarta”. “ iya, padahal aku sudah gak pernah kepikiran lagi lo, sempat down gara-gara gak dapet-dapet kerja”. “Sudahlah semua ini emank rencana Tuhan”. “Rencana Tuhan tu emank hasilnya lebih indah ya daripada rencana kita”.

Begitulah rencana Tuhan, tak akan pernah kita duga. Disaat kau mulai lupa akan apa yang kau impikan, Dia mengingatkanmu kembali dan lebih indahnya Dia mengabulkannya.


Selaput Pada Mata



Mata merupakan salah satu panca indra yang berfungsi sebagai indra penglihatan. Ada beberapa penyakit yang dapat mengganggu penglihatan kita. Yang sering terjadi adalah mata yang minus (myopia) atau silinder (astagmatisma) sehingga penderita diharuskan untuk memakai kacamata atau lensa kontak untuk membantu penglihatannya.

Penderita mata minus atau rabun jauh sulit melihat benda dari jarak jauh. Hal ini dikarenakan kelengkungan kornea yang lebih pendek serta sumbu bola mata yang terlalu panjang. Sedangkan mata silinder ini disebabkan panjang kornea antara horisontal dan vertikal yang tidak sama.

Hal ini terjadi bisa karena faktor turunan atau bisa juga karena kebiasaan yang tidak sehat untuk mata misalnya membaca buku terlalu dekat, terlalu lama berada di depan komputer, dsb.

Selain itu ada juga penyakit mata yang dapat mengganggu penglihatan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila tak segera di tangani. Penyakit mata itu adalah katarak.

Katarak adalah sejenis kerusakan mata yang menyebabkan lensa mata berselaput dan rabun. Penyakit ini ditandai dengan munculnya selaput pada lensa mata, penglihatan akan menjadi buram, ketajaman penglihatan berkurang, sensitivitas kontras juga hilang, sehingga kontur,warna bayangan dan visi kurang jelas karena cahaya tersebar oleh katarak ke mata.

Katarak ini berkembang karena berbagai hal, seperti kontak dalam waktu lama dengan cahaya untra violet (matahari), radiasi, efek sekunder dari penyakit seperti diabetes dan hipertensi, usia lanjut dsb. Penyakit ini dapt disembuhkan melalui operasi mata.

Ada juga penyakit mata yang diakibatkan oleh selaput yang muncul di bola mata. Tapi ini berbeda dengan katarak. Kalau katarak selaputnya berada pada lensa mata sehingga mengganggu penglihatan dari penderita, kalau yang ini selaputnya berada pada bola mata sehingga tidak mengganggu penglihatan dari penderita.

Penyakit ini disebut Ptrerygium atau selaput mata. Penyakit ini ditandai dengan timbulnya selaput pada mata yang muncul dari tepi mata bagian hitam menuju ketengah bola mata. Terjadinya penyakit ini biasanya dikarenakan paparan sinar matahari, angin, debu, mikro-trauma dan juga bisa dikarenakan faktor genetika dan infeksi virus.

Upaya untuk menghilangkan selaput tersebut hanya dapat dilakukan dengan operasi mata. Operasi tersebut tergolong operasi kecil, sehingga komplikasi yang mungkin terjadi juga kecil. Hanya saja, kendala yang dihadapi sampai saat ini adalah kekambuhan pasca operasi yang cukup tinggi.

Karena itu operasi hanya dilakukan jika penyakit sudah cukup parah (sudah mengganggu penglihatan penderita). Penderita yang berusia muda memiliki kemungkinan kambuh cukup besar. Oleh sebab itu, beberapa ahli mata belum menganjurkan untuk operasi jika penyakit belum mengganggu.

Agar penyakit ini tidak mudah kambuh penderita dapat memberikan obat tetes mata. Dan untuk pencegahannya penderita disarankan untuk menggunakan kacamata filter ultraviolet (kacamata hitam) untuk mengurangi paparan sinar matahari dan debu.


Aku Memanggilnya Ayah


Aku pernah membaca blog seorang teman tentang ayahnya. Dia bercerita banyak tentang ayahnya. Bagaimana seorang ayah dengan wisenya memberi nasehat, memberi semangat, membanggakan anaknya and anything.

Entah mengapa saat membacanya ada haru yang membuncah dalam hati. Ada kerinduan yang tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Entah haru karena apa dan rindu dengan apa atau siapa. Mungkin aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya di banggakan oleh seorang ayah atau mungin pernah hanya saja aku tak bisa untuk mengingatnya.

Aku ditinggalkan oleh seseorang yang kupanggil ayah ketika aku masih kecil, saat aku berumur 4 tahun. Sedikit memory yang terekam dengannya, karena otakku waktu itu belum bisa menyimpan memory-memory dengan kapasitas banyak.

Yang sampai sekarang aku ingat hanya saat kepergiannya, entah kenapa memory itu yang bisa kuingat. Aku masih ingat jelas waktu itu, aku disuruh melihatnya untuk yang terakhir kali, meskipun otakku tak dapat menyimpan gambaran wajahnya.

Dan tak lama berselang aku diajak naik sebuah mobil yang membawaku ke suatu tempat yang mereka bilang Sama’an, nama sebuah kuburan yang berada di kotaku. Cuaca hari itu sangat terik yang membuatku tak mau turun dari mobil meski disuruh ikut.

Aku menunggu dalam mobil untuk beberapa waktu dan aku tak tau apa yang orang-orang itu lakukan. Tak lama berselang pak dhe ku datang dan juga orang-orang itu kemudian membawaku pulang kerumah.

Sesampai dirumah yang masih penuh dengan banyak orang, sodara, tetangga dan beberapa orang yang aku tak pernah lihat atau kenal. Aku kembali berlari-lari dan bermain tanpa peduli dengan orang-orang itu.

Dan tanpa sengaja mendengar kata-kata dari tanteku “ Yu lika (mamaku) jare gak bakal nagis, eh mulih tekan kuburan nangis” (“Mbak lika ( mamaku ) katanya gak akan nangis, eh pulang dari kuburan nangis”). Aku juga tak pernah mengerti kenapa sampai sekarang aku bisa ingat kata-kata itu. Secara aku adalah seorang anak 4 tahun waktu itu.

Yang kini ku mengerti, mamaku berusaha untuk tak manampakkan kesedihannya waktu itu, berusaha tampil tegar, tetapi ketegarannya akhirnya runtuh ketika ayahku sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke dunia yang tak sama lagi dengannya denganku, yang tak pernah bisa kembali lagi.

Aku tak pernah tau dan tak bisa mengerti kenapa memory yang terekam di otakku hanyalah tentang kepergiannya. Kenapa bukan saat aku digendong olehnya, di peluk, di cium, disayang olehnya. Aku tak pernah ingat bagaimana takutnya saat dimarahi olehnya, atau bagaimana bahagianya saat dibangggakan olehnya.

Aku hanya bisa melihat memory indah bersamanya lewat foto, dimana aku di gendong olehnya, di cium, dipeluk, di sayang dan itu bukan dari memory otakku.

Pernah seorang teman bertanya padaku “ Kamu gak sedih waktu itu?” dan aku menjawab “ Aku sudah ditinggalkan sejak aku kecil, sehingga aku sudah terbiasa tanpa dia, jadi aku gak pernah ngerasa sedih atau kangen, tak ada ingatan tentang dia”.

Tapi semua itu sekarang berkebalikan dengan apa yang aku rasakan sekarang, setelah membaca blog temenku itu. Aku jadi iri sama kalian-kalian yang masih punya sosok yang dipanggil ayah.

Jadi buat kalian-kalian yang masih mempunyai seorang ayah, hormati dia, sayangi dia, jagalah dia. Karena kalian sangat beruntung masih bisa merakit memory-memory bersamanya.

Untuk Dia yang Ku Panggil Ayah

Aku tak pernah mengenalmu,
tetapi selalu ada doa untukmu
Aku tak pernah merasakan kehadiranmu,
tapi aku tau kau selalu ada di sampingku
Menemaniku, menjagaku, mengawasiku
Karena darahmu ikut mengalir dalam tubuhku
Kau wariskan sifatmu dalam diriku,
meskipun aku tak tau bagaimana sifatmu
Aku sudah lupa dengan gambaran wajahmu
Tapi kata mereka aku sangat mirip denganmu
Kau, Seseorang yang ku panggil ayah
Meskipun aku tak pernah bisa merasakan
Tapi aku akan selalu mengerti
Kalau kau menyayangiku
Dan lihatlah aku sekarang
Yang akan berusaha untuk membuatmu bangga
Bangga karena mempunyai anak aku


Cerita Si Jobless

Jobless, yupz itulah status yang aku sandang sekarang. Udah setahun ini aku menyandang status ini. Sudah puluhan surat lamaran yang ku buat dan kukirim. Sudah banyak kali aku ikut jobfair, mulai dari yang di dalam kota sampai luar kota aku ikuti.

Ada beberapa panggilan kerja yang aku terima dan melakukan tes psikologi, interview, dan tes kemampuan. Tapi hasilnya nihil, tak ada panggilan lanjutan dari tes-tes tersebut.

Kadang ngerasa down banget, berasa amat sangat bodoh dan kehilangan rasa percaya diri. Pernah berpikiran apakah aku terlalu memilih-milih pekerjaan. Karena pernah 2 kali diterima kerja, tetapi pekerjaannya tidak sesuai dengan harapanku.

Kadang kalo lagi down banged ngerasa nyesel kenapa ngelepas pekerjaan itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lagipula bukankah tak nyaman bila bekerja di tempat yang kamu tak sukai.

Dan yang paling menyebalkan adalah bila ada orang yang mengira tak pernah berusaha untuk mencari pekerjaan. Ada yang bilang “ lhoh gak nyoba ngelamar-ngelamar ta??” ato “ Coba deh ikuto jobfair disana banyak yang buka lowongan”.

Hellowww emangnya aku gak pernah ikut, emanknya aku gak pernah mencoba ngelamar pekerjaan. Tapi aku pikir buat apa pula dengerin apa kata orang, yang ngejalanin hidup kan aku, i’m a driver in my life.

Pernah di nasehati ma omku yang bikin aku selalu bisa menguatkan diri. “Kita lahir di dunia ini bukan karena keinginan kita, kita juga tak bisa memilih siapa orang tua kita, lahir dimana, semua ini berasal dari zat yang maha tinggi, maha mulia yaitu Allah.

Rizky, jodoh dan maut, kita gak akan pernah tau. Setiap manusia mempunyai takaran riskynya masing-masing. Dan yang ngatur Dia yang Maha Mulia itu tadi. Jadi tetep berusaha dan berdoa, kalo udah rejekinya pasti juga dapet kerja kok”.

Ya emank bener kata om ku itu, berusaha emank penting tapi doa juga perlu. Hidup tu kayak ngerjain skripsi, kita punya keinginan-keinginan yang ingin kita wujudkan, ya seperti membuat proposal. 

Kita belajar hal-hal yang gak pernah kita tau dan membuatnya dalam sebuah proposal, kemudian kita ngajuin semua itu ke Allah, kalo emank itu hasilnya baik dan sesuai untuk kita pasti langsung di ACC, tapi kalo masih belum cukup baik untuk kita pasti masih ada yang harus diperbaiki kan. Hidup itu bukan untuk menjadi seseorang yang sempurna.

Yang tak pernah melakukan kesalahan, yang tak pernah terlihat cacat.  Andaikan aku di tawari untuk mendapatkan hidup yang sempurna, tanpa ada kesalahan, tanpa ada kesengsaraan, tanpa ada rasa sakit, hmm sebuah tawaran yang sangat menggiurkan, tapi aku akan menolaknya. Karena bila hidupku sempurna aku tak akan dapat mengambil pelajaran dari kehidupan, it will be so flat n boring.